Thursday, July 25, 2013

#dhuha


#dhuha 1. ... Kalau masih di langit, turunin...

#dhuha 2. Islam selalu ngajarin 2 sisi... Dunia, akhirat. Akhirat, dunia. Lengkap. Ada mikir, ada bertindak. Ada ajaran, ada contoh..

#dhuha 3. Doa dhuha, kalau masih di langit, tlg turunin, bermakna pula, panjat. Naik. Jgn juga nunggu turun tuh rizki.

#dhuha 4. Bismillaah dulu pas baca tweet2 ini. Dan niat nuntut ilmu. Spy dpt tambahan value kebaikan. Dpt tambahan pahala. Pahala belajar.

#dhuha 5. Bismillaah dulu gih dah... Yg bnr. Jangan selewatan. Pejemin mata, tarik dan lepas nafas yg rileks. Trus bismillaah..

#dhuha 6. ... Bila rizki masih di bumi, keluarin... Ini bukan artinya hanya jongkok, lalu nungguin ruh rizki keluar. Gali. Pacul. Tanam.

#dhuha 7. Kalo masih jauh, tlg deketin... Blh jg dimaknai, kejar. Deketin diri dg rizki. Jgn menunggu.

#dhuha 8. ... Bila sedikit, tlg banyakin... Maknanya, ada usaha u/ muterin. u/ bergerak beraktifitas, berproduksi, produktif. Jgn diem.

#dhuha 9. Tp semua Allah ajarkan soalan Tauhid. Ngasih tau, jgn lupakan Allah. Sbb semuanya tergantung&bergantung Allah.

#dhuha 10. Pas manjet, u/ ngejar rizki yg di langit, yg di atas, emangnya ga bisa jatuh? Kan bs jatuh. Krn itu perlu Allah

#dhuha 11. Pas ngejar rizki yg jauh, emangnya ga bs kesasar? Kan bs aja kesasar. Bs tambah jauh. Bukan tambah deket. Krnnya perlu Allah.

#dhuha 12. Ketika ngegali, nanem, macul, emangnya ga bakal ketemu sandungan? Dalemnya jg ga tau seberapa dalemnya. Perlu Allah karenanya.

#dhuha 13. Ketika ngebanyakin yg sedikit, banyak koq yg akhirnya habis. Makanya libatin Allah. Biar ga kejedot kejedot.

#dhuha 15. Allah ksh statement, bhw baik di atas di bawah, jauh dekat, di dalam diluar, banyak sedikit, smua Milik-Nya.

#dhuha 16. Kita kejar, tp kita pasrah. Kita kejar, tp kita sabar. Kita kejar, tp kita ga jauh, apalagi melupakan Allah.

#dhuha 17. Innadh-dhuhaa-a, dhuhaa-uka...

#dhuha 18. Itu artinya...?

#dhuha 19. Semua adalah Milik-Mu.

#dhuha 20. Bnyk yg sombong, sbb disangkanya bs tanpa Tuhan. Smua hasil kerjaannya, usahanya, keringatnya. Lupa dia sama Allah

#dhuha 21. Innal jodoha, jodohuka. Butuh jodoh, cari, kejar, minta, itu jodoh. Tp kudu tau, jodoh, punya Allah.

#dhuha 22. Kalo udah ada jodohnya, ikutin maen Allah. Ga ada OJJ soalnya. Otoritas Jasa Jodoh, he he he... OTA, Otoritas "Jasa" Allah.

#dhuha 23. Jodoh, yg ngasih Allah. Allah bilang, jangan dicolek, eh eh eh, kita malah brtindak lebih. Nah, ini ga dhuha namanya.

#dhuha 24. Ga ngakuin bhw jodoh itu, milik Allah. Sampe kemudian halal dengan akad
Orang kaya itu, dhuha.
Kaya, tp ga dhuha, ya miskin.
Miskin, dhuha, ya kaya.
Kaya itu, dhuha.

Kenapa kaya itu dhuha? Sbb dia brsyukur dikasih pagi. Bersyukur dikasih ini itu, bs ini itu. Sedang kaya itu bersyukur.
@Yusuf_Mansur

#langitbumi


#langitbumi 1. Isinya langit&bumi, bukan kita doangan. Dan ga keitung jumlah&varian penghuninya. Blm lg kalo malaikat&jin diitung.

#langitbumi 2. Dedaunan, ranting, dahan2, akar, dari pepohonan, siapa yg bs ngitung tuh jumlahnya? Kembangnya, bunganya, buahnya?

#langitbumi 3. Serangga, hanya 1 jenis binatang. Sedang, raron, semut, nyamuk, lalet, udah ga bakalan bisa keitung juga.

#langitbumi 4. Ikan jg brmcm2. Bhkn ikan2 di darat yg udah pd jd ikan bakar, ikan goreng, ikan pepes, he he he, bnr2 jg ga bs keitung

#langitbumi 5. Hebatnya, ketika disebut binatang, misalnya, ikan, bukan hanya 1 ikan dihitungnya. Tp sisiknya, siripnya. Wow.

#langitbumi 6. Seperti menghitung pohon, ga cuma 1, yakni pohonnya. Engga. Tp semua bagian dari pohon itu.

#langitbumi 7. Maka jumlah makhluk Allah, makin bnr2 ga keitung, jika hitungannya pakai bulunya binatang2, sayapnya binatang2...

#langitbumi 8. Belom lg air, yg dihitung bukan 1 juga. Tp dg hitungan bagian per bagian air itu. Debu, pasir, kerikil, batu...

#langitbumi 9. Belom jg yg trsembunyi di balik gunung, di dsr bumi, di dsr samudera, di dsr lautan, awan yg bergerombol...

#langitbumi 10. Demikian pula udara...

#langitbumi 11. &disebut semesta, bukan hanya bumi. Ada ratusan milyar planet kyk bumi di galaksi ini. &ratusan milyar pula galaksinya.

#langitbumi 12. &semua yg sy sebut, brikut yg blm disebut, seperti bulan, bintang, matahari, semuanya... BERTASBIH pada-Nya...

#langitbumi 13. Tidakkah qt mau mengetahui? Bhw jika kita bertasbih, maka frekuensinya akan sama dg seluruh semesta&isinya yg jg brtasbih.

#langitbumi 14. "Sabbaha lillaahi maa fissamaawaati wal-ardh. Apa2 yg di langit&di bumi, bertasbih kpd Allah..." (Al Hadiid [57]: 1).

#langitbumi 15. Jd jika qt brtasbih, maka itu sama saja dengan melakukannya bersama2 sluruh, sekali lagi, seluruh, penghuni langit&bumi.

#langitbumi 16. Bertasbih brsama ikan2... Brtasbih bersama dedaunan... Bertasbih bersama burung2... Bertasbih brsama smua yg disebut tadi.

#langitbumi 17. Sbg PR, he he, coba tengok surah al Hadiid, ayat 1 s/d 11. Baca brulang2, teks&trjemahnya. Keren banget. Coba dah.

#langitbumi 19. Yg blm bertasbih, yuuukkk... Subhaanallaah bihamdih... 100x... Lbh keren, 100 pagi, 100 petang. Seirama dg semesta!


Sunday, July 7, 2013

Iseng ah...


SEDEKAH PRODUKTIF

Saya mau terus bergerak mengajak jamaah untuk dakwah ekonomi. Saya masih sangat-sangat percaya bahwa dengan berjamaah, bersatu, bersama-sama, banyak hal kecil jadi besar. Karena itu, bismillaahirrahmaanirrahiim, saya memperkenalkan ulang konsep SEDEKAH PRODUKTIF. Insya Allah ini aman punya untuk dijalankan. Sebab sedekah kan sudah menjadi hal yang biasa. Insya Allah saya dkk PPPA berusaha banget untuk amanah, jujur, profesional, dan punya spirit untuk mengembangkan dana sedekah kwn-kwn semua, sdr-sdr semua, bapak/ibu, untuk hal yang lebih besar manfaat dan hasilnya.
Sedekah Produktif adalah sedekah yang tidak langsung dibagikan habis untuk fakir miskin, dhuafa, yatim, dan target-target sedekah lainnya. Melainkan diputar dulu untuk kegiatan-kegiatan ekonomi. Untuk mengangkat lebih banyak juga mustahik jadi muzakki dengan program-program pembiayaan lebih lanjut. Dengan sedekah produktif, diharapkan, jumlahnya juga membesar, jauh lebih besar dari jumlah sedekah awal. Sebab digerakkan, diputar, diusahakan. Asas sedekah produktif adalah prudent, safety, dan tentu saja sangat diusahakan dan diperhatikan tidak nabrak sesuatu atau sektor-sektor usaha yang dilarang agama dan negara.
Dengan sedekah produktif, diharapkan bahkan visi misi “Beli Ulang Indonesia” tetap tercapai. Kita jalan pelan-pelan, dengan langkah kecil kita. Insya Allah, Allah yang akan menyempurnakannya.
Di sini, kawam-kawan dituntut untuk lebih ikhlas lagi berbuat. Jika di PU, PatunganUsaha, ada bagi hasilnya, dan ada pengembalian dana saudara-saudara semua, maka di Sedekah Produktif, kawan-kawan ga ada bagi hasil, dan ga ada pengembalian dana. Dana kawan-kawan terus digerakkan, digulirkan, diusahakan, membesar dan membesar. Insya Allah.
Tapi ya jangan kuatir. Return dari Allah pastinya akan jauh lebih besar, dan ga ada yang mengalahkan. 10x lipat, hingga 700x lipat, dan terus bertambahnya, ga cuma sekali. Terus-terusan, hingga yaumil hisab nanti. Masya Allah dah. Mestinya, ga mundur nih dengan informasi ini. Seperti yang saya bilang, saya lebih suka menyeru kawan-kawan untuk bersedekah. Jika hanya mikirin return. Sebab gede banget returnnya. Tapi karena ada juga pahala yang tidak dimiliki oleh sedekah, yakni pahala bekerja dan berusaha, meski untuk bisa sedekah orang juga harus kerja dan usaha, maka saya menyeru juga kerja dan usaha. Termasuk menyeru untuk investasi di dunia usaha dan ekonomi.
Ke depan saya akan mengajak kawan-kawan untuk menyelami tentang sedekah produktif. Prinsipnya tetap saya bawa ke visi misi besar, membeli ulang Indonesia. Tapi dengan dana sedekah produktif. Di artikel awal ini, saya kasih contoh. Dengan 20rb rupiah, insya Allah kita bisa beli air mineral, 2 air mineral gelas, dan beberapa botol air mineral ukuran kecil. Nah sekarang bayangkan, jika 10jt orang berkumpul sedekah 20rb? Berapa tuh? 200.000.000.000,- (dua ratus milyar rupiah). Amazing kan?! Dan ini pasti insya Allah bisa. Bergerak aja dulu. Tar juga nyampe tuh perjalanan. Dan apa yang bisa dilakukan dengan 200 M tersebut? Wuah banyak. Itu bisa bikin 10 pabrik air mineral besar di 10 kota besar, lengkap dengan armada truknya, lahannya, bangunan permanennya. Masya Allah kan? Sekarang bayangkan kalo 10jt orang bergabung secara bulanan? Berarti 1 tahun bisa terkumpul dana 2,4 trilyun! Itu bisa bikin ratusan BPR syariah di ratusan kota. Atau bisa masuk sebagai pemegang saham di salah satu bank swasta nasional. Kita bisa cari yang syariah. Keren dah.
Yuk kita mulai dulu.
Saya dapat berita, dari seorang eks petinggi Pertamina. Bahwa di Kazakhsytan ada tambang minyak yang bisa ditake-over. Berapa nilai akuisisinya? 100 juta dolar. Harga ini, jumlah ini, tentu muyengin buat sebagian kita yang lagi uring-uringan soal kredit motor, kontrakan rumah, anak bini yang sedang sakit, lagi jobless, lagi banyak utang. Semuanya saya doakan agar kemudian bisa ditolong Allah. Aamiin.
Ketika dapat berita itu, saya coba datang ke salah satu kawan pengusaha. Dia masih muda. Banyak akses keuangan. Dan insya Allah saya lihat dia bisa. Dan benar, disanggupi. Proses kemudian dijalankan. Sampe sekarang masih proses. Saya ga tau sampe mana. Saya hanya mengenalkan.
Tapi kemudian saya berpikir. Bagaimana kalau ummat punya cash. Cash is the King. Tentu ga perlu ditawar-tawarin kepada yang lain. Berangkat aja langsung survey dan neliti. Berangkat aja langsung untuk kemudian melakukan studi kelayakan, dan lain-lain hal layaknya mau beli perusahaan. Tapi sebab dana udah tersedia, tinggal bayar saja. “Cadangan minyaknya, kayak minyak Indonesia tahun 80-an,” begitu kata eks petinggi Pertamina ini dalam suatu obrolan. Saat itu, demi Allah ya, berulang-ulang saya menyebut, bahwa ummat bisa. Ummat punya. Dana segitu, ga banyak. Ya, ga banyak untuk ummat besar seperti Indonesia ini. Berapa sih 100 juta dolar itu? Hitung aja dengan kurs 10rb. 10 ribu enolnya 4m, he he he. 0000. kemudian 100 juta itu enolnya? 00.000.000. 8 enolnya. Jadi, 100 juta dollar, berapa duit? 1.000.000.000.000,-. Berapa tuh? 1T, he he he. 1 Trilyun “saja”.
Belagu ya?
Engga belagu.
1T itu besar banget. Mimpi malah. Buat siapa? Buat saya jika sendirian. Tapi jika buat 100 kota? Maka cukup mencari 10 Milyar saja per kota. Nah, Indonesia ini 500-an kota. Kalo dibagi 500, maka cukup mencari 2M per kota. 2M per kota itu, dibagi 10 kecamatan, berarti “hanya” 200jt saja per kecamatan. 200jt per kecamatan, itu berarti “hanya” 20jt per kelurahan. Sekarang berapa orang per kelurahan? Jika 1000 orang saja per kelurahan, maka itu berarti bener-bener “hanya” 20rb “saja”. Dan ini bukan mimpi. Ini sungguhan. Caranya? Ya bergerak saja. Mulai saja. Insya Allah saya dkk akan bener-bener berusaha untuk tidak mencederai niatan tulus, semangat, dan motivasi kawan-kawan. We will do the best. Doakan dah ya.
Udah baca ya artikel “200 milyar”? Tentang Sedekah Produktif. Saya coba tidak berandai-andai. Melainkan menetapkan sebagai visi misi, dan langsung action. Langsung jalan. Saya mengajak kawan-kawan berpikir. 20rb, dari 10jt orang, terkumpul 200 milyar. Dan itu bisa bangun 10 pabrik air mineral besar di 10 kota besar, bahkan kalau 1 tahun kita berturut-turut cetak hatrik dengan menggaet 10jt orang yang bersedekah 20rb saja, maka bisa mengakuisisi bank swasta nasional. Top dah. Dan itu artinya apa? Terbuka juga lapangan pekerjaan yang sangat banyak sekali. istilahnya, dengan kita bersedekah 20rb rupiah saja, asal berjuta-juta orang, maka lapangan pekerjaan akan benar-benar banyak terbuka bagi mungkin belasan, hingga puluhan ribu orang. Sebab 200 milyar rupiah sebulan, atau 2,4 trilyun setahun, sangat banyak juga pabrik yang bisa kita bangun atau akuisisi.
Ayo dah. Semangat.
Pola pikirnya saya ajarkan diri saya lagi dan siapa yang mau belajar. Sedekah 20rb, dapat 4 nasi bungkus. Lalu kita bagikan ke 4 orang miskin, atau 4 anak yatim. Tentu tidak akan ada yang meragukan ini adalah perbuatan baik. Tapi kita juga harus berpikir untuk mengangkat sisi kemanusiaan mereka yang kita kasih. Kalau bisa, kita perjuangkan untuk menjadi muzakki (pemberi zakat). Jangan selamanya menjadi mustahik (penerima zakat). Misalnya, kumpulkan lah 100 orang yang mau sedekah dan bisa sedekah 20rb. Maka terkumpul 2jt rupiah. Lalu dengan 2 juta itu, biayai tukang nasi uduk, nasi goreng, misalnya. Minta salah 1 fakir miskin, maju, menjadi pedagangnya. Dan sampaikan, bahwa dia kudu ngasih makan sekian orang dari nasi jualannya. Nah, inilah sedekah produktif.
Sekarang bayangkan, jika kemudian ada 10 juta orang bersedekah 20rb rupiah? Selama 1 tahun pula? Wuah, bisa punya ribuan warung makan, pasar, kebun, ladang, pertanian, perikanan, peternakan, sekolah, dan lain-lain. Yang akhirnya, bisa banyak bangetlah orang kemudian bekerja. Jika sebelumnya mereka hanya diberi, sekarang mereka bekerja. Sebab bekerja, maka kemudian dapat gaji, honor, hasil. Maka kemudian dia bisa mengangkat derajat keluarganya, dan kemudian bisa kemudian bersedekah balik untuk mengangkat gantian yang lain.
Ini nmr rekeningnya. Kita mulai aja dulu dah. Yang udah ngirim, tolong kirim imel ke sejutayusufmansur@gmail.com. Tar pelan-pelan IT nya diurus, dibuat, disempurnakan. Supaya berjalannya sistem. Tapi ya jangan nunggu sistem dah. Kita mulai aja dulu. Saya ada di depan, di kanan, di kiri, di belakang. Buat ngawal program ini. Bantu doa ya. Bismillaah dah. Ini nmr rekeningnya ya…
Rekening Sedekah Produktif:
BCA : 6030751351 Cab. Bintaro Utama
Mandiri : 101 000 6789992 Cab. Bintaro Jaya
BSM : 074 006 4000 Cab. Ciledug
A/n. Yayasan Daarul Qur’an Nusantara
yusufmansur.com/oil-and-gas/
yusufmansur.com/4-nasi-bungkus/

Keterangan lebih lanjut hub:
GRAHA DAARUL QUR'AN Kawasan Bisnis CBD Ciledug. Blok A3 No.21, Jl. HOS. Cokroaminoto, Karang Tengah, Kota Tangerang 15157
Telp. (021)7345 3000 (hunting), Fax. (021)7344 4858 - SMS Center 0815 1900 2828
Email : layanan@daqu.or.id   YahooMessenger : my_pppa   Facebook : pppadaqu   Twitter : daarul_quran
Atau

Ruko Pondok Cilegon Indah (PCI) Blok A3 No.7
(Belakang BCA Cilegon) Telp. (0254) 396999, Fax.(0254) 394999
SMS Center : 08111 922 100

Monday, June 17, 2013

Berdo'a, berdo'a, berdo'a...

Sedekah, Doa, & Pamrih

3,170 Views
sedekah-1Ttg sedekah, doa, dan pamrih, konsep saya memang beda.
Doa itu ibadah.
Seperti sedekah, di mana ia juga ibadah. Dan doa, bukan pamrih.
Niat, ga bisa disebut atau disamakan dengan doa.
Niat ya niat. Doa ya doa.
Dari sini semua bermula. Sekedar sharing juga, he he he.
Seseorang yang sedekah, kepengen anaknya sembuh, maka permintaan itu “setara/sama/serupa” dengan pengen kaya, pengen selamet, pengen nikah, pengen kerja, pengen tolak bala, pengen punya rumah, pengen terus sekolah, pengen masuk kampus favorit, pengen beasiswa di luar negeri, pengen punya anak, pengen punya modal, pengen punya modal, pengen ngembangin usaha, pengen punya usaha, pengen naik karir, dll.
Ketika “pengen”, maka itu udah masuk wilayah doa. Bukan niat lagi.
Niatnya apa? Ya niatnya sedekah.
Doanya? Doanya supaya bisa selamet dari fitnah, dll. Semua yg disebut: setara, sama, serupa. Sebab sama-sama disebut doa.
Orang shalat tahajjud. Niatnya?
Ya tentunya niat shalat tahajjud. Usholii sunnatat-tahajjud…
Ketika dia shalat tahajjud supaya dinaikkan derajat, supaya jadi orang kaya, dilapangkan rizki, lunas hutang, sembuh dari penyakit, dll., maka ketika ada kalimat “supaya”, maka itu masuk wilayah doa.
Sedekah, tanpa doa? 1 pahala.
Sedekah + doa ? 2 pahala.
Bila beda di awal, maka beda pula serencengan, he he he. Saya, terhadap amal-amal lain, ya ga nyebut itu sbg pamrih. Bahkan ngarep di mata saya, adalah juga doa. Amal tinggi banget bila seseorang bisa ngarep sama Allah saja. Ga ngarep sama yang lain. Baru bermasalah, bila ngarepnya ke orang. Dia bantu orang lain, tapi ada maunya dari orang itu. Itu yg ga boleh. Atau riya (memperlihatkan amal kepada yg lain). Atau sum’ah (memperdengarkan kpd yg lain).
Baca Qur’an, supaya dapat berkah. Boleh ga?
Nah di sini, beda konsep.
Baca Qur’an, niatnya apa?
Ya pastinya ridho Allah.
Ya baca Qur’an aja. Terus minta hidup berkah, kekayaan berkah, anak2 berkah, rumah tangga berkah, pekerjaan berkah, usaha berkah, umur berkah, tenaga berkah.
Ketika nyebut “supaya”, itu udah masuk lagi2 ke wilayah doa. Jangankan sekedar berkah, atau katakanlah bahwa permintaan itu adalah “cuma” 1 permintaan. Dia minta sejuta permintaan, setelah baca Qur’an, atau bahkan sebelum baca Qur’an, atau bahkan nih, tanpa baca Qur’an, maka doa itu boleh banget2. Ngarep, boleh2 banget. Tidak ada satupun yang berhak melarang.
Jika doa sudah disebut niat, maka itulah awal pertentangan atau perbedaan.
Koq sedekah pengen kaya?
Koq birrul walidain pengen diangkat derajatnya, koq dhuha pengen dibuka rizki… Salah semua jadinya. Padahal, menurut konsep yg saya ikutin, kalo masuk “supaya”, itu masuk wilayah doa sebagaimana disebut di atas. Adalah rugi jika seseorang yg beramal saleh, lalu dia tidak meminta kepada Allah. Rugi banget.
Tapi saya sangat setuju, jika kemudian permintaan itu tidak hanya bersifat duniawi belaka. Tapi minta ridho Allah, minta surga, pengampunan, selamat dunia akhirat. Apapun, itu namanya “minta”. Yg bagus, beramal yang banyak, dan minta yang banyak.
Tulisan yg gini2, sdh jadi buku kompleto atas izin Allah. Judulnya: Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep?
Boleh juga ada yg mengatakan. Niatnya melaksanakan tugas kantor. Ngejar target. Supaya naik pangkat, supaya promosi. Supaya naik gaji. Itu kalau di dunia manusia kerja. Apalagi kalau niatnya ibadah, ya keren banget.
Seluruh motivasi dunia, dibenarkan, menurut saya, jika mencarinya “hanya” di Sisi-Nya, dan dg Cara-Cara-Nya.
Dunia adalah milik Allah. Dekatkan semua yang pengen dunia, dengan Pemilik-Nya. Supaya mereka tidak meminta dunia dari selain-Nya, dengan cara-cara yang tidak diridhai juga oleh Pemilik-Nya.
Dan ajarkan mereka yang kepengen dunia, sebagaimana kita mengajarkan karyawan-karyawan kantor u/ bekerja terbaik, ngejar target, lalu dapet bonus terbaik juga.
Maka ajarkan yg pengen dunia, apa-apa yang diperintahkan Pemilik Dunia, spy dapat bonus banyak fii-haadzihil-hayaatid-duniaa… Ajarkan mereka yang pengen dunia, untuk meninggalkan seluruh larangan Pemilik Dunia. Spy dapet. Atau dapetnya dengan ridha-Nya.
Sbb banyak yg dapat, tp tidak dg Ridha-Nya. Dengan cara-cara yang benar, cara2 yg betul, yg hati2, tapi penuh semangat, sbb dunia memang milik Allah. Sementara itu, Allah pun mengajarkan, bahwa semua dunia ini, ga ada seberapanya dibanding apa-apa yang Allah akan berikan di negeri akhir. Ini dia… Ga seberapa dibanding dengan apa-apa yang Allah akan beri di negeri akhir.
Jadi, bukan ga boleh. Justru boleh banget. Malah dimotivasi, bahwa akan dapat yang lebih baik lagi nanti di akhirat. Ajarkan pula kehati2an, bahwa jangan sampe berhenti di expecting something about dunia only. Harus lebih powerful. Minta itu selalu dua, selalu seimbang: permintaan dunia, permintaan akhirat… Kayak yg diajarkan Allah sendiri: Rabbanaa aatinaa fid-duniaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.
Permintaan seimbang pun trnyata msh ga seimbang. Sbb Allah ngajarin 2:1, dua banding 1. Permintaan kebaikan negeri akhir, msh ditambah permintaan selamat dan terlindungi dari api neraka. Dua permintaan berbanding 1 permintaan di dunia.
Ini sekaligus ngajarin juga kita, bahwa sebaik-baik permintaan, tetap permintaan akhirat. Tapi permintaan akhirat, tetaplah permintaan. Artinya, ya harus juga diminta. Jangan diem aja. Jangan sampe sedekah ya sedekah saja, baca Qur’an ya baca Qur’an saja, dhuha ya dhuha aja, berbuat baik ya berbuat baik saja. Jangan. Kudu ada permintaannya. Kudu ada doanya.
Salam. Selamat berbuat baik, dan berdoalah. Sesungguhnya Allah menunggu dan mendengar doa. Silahkan share apa2 yang didapat di www.yusufmansur.com atau di twitter @yusuf_mansur, ke sebanyak2nya orang. Dan salamkan salam saya, agar perbanyak sedekah, supaya doa lebih maqbuul lagi. Lebih dikabulkan. Juga jaga shalat fardhu berjamaah, di masjid, khususnya di masjid, dan sebisa mungkin jauhi dosa, jauhi maksiat.

Sumber: http://yusufmansur.com/sedekah-doa-pamrih/

Berjama'ah

Islam memerintahkan pemeluknya untuk berjamaah. Tidak hanya dalam shalat. Tapi juga dalam ekonomi dan lain-lain hal, termasuk makan. Innal barakata ma’al jamaa’ah, sesungguhnya keberkahan itu ada di dalam kebersamaan.

Shalat sendiri, beda dengan shalat berjamaah. Jika berjamaah, beda 27 derajat. 27 kali lipat dapatnya. Bahkan istimewanya, siapa yang shalatnya lebih bagus, baik dalam ilmu, rasa, keikhlasan, maka derajat dia yang dipakaikan ke semua yang ada di dalam shalat berjamaah tersebut.

Dapat pula pahala ikutan lain-lainnya sebab shalat berjamaah. 40 orang yang berdoa, maka dikabulkan itu doa. Berapa kalo kita kemudian berjamaah dalam masjid yang jamaahnya mencapai lipatan 40?

Sebab berjamaah, maka dapat pahala melangkah ke masjid, dapat pahala jika datang ke masjid udah dalam keadaan berwudhu, bisa dapat pahala tahiyyatul masjid, qobliyah ba’diyah, zikir, sesuatu yang mungkin tidak dapat kita laksanakan manakala gak berjamaah dan tidak ke masjid.

Bersedekah juga begitu. Begitu berjamaah, maka Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu jadi sesuatu yang besar. Jika sebelumnya 20 ribu, bisa dapat dua bungkus nasi plus lauk sederhana, 50 ribu dapat lima bungkus nasi plus lauk sederhana, 100 ribu bisa dapat 10 nasi bungkus plus lauk sederhana.

Maka bila satu juta orang berkumpul, bersedekah Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu? Dapat berapa? Dapat apa? Dapat ribuan hektar sawah, yang bisa kemudian sedekahnya bisa bergulir dan bergulir.

Bisa punya peternakan sapi yang gak bergantung sama import, bisa membeli perahu dan membangun pasar ikannya sendiri, bisa membuka perkebunan yang tidak dikontrol harganya oleh pasar.

Sayang, ummat kita belom dimaksimalkan potensi berjamaahnya. Potensi ummat, terutama dari sisi berjamaah ini, baru dimanfaatkan oleh segelintir orang.

Misal, kebutuhan orang untuk makan, udah kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk berjualan. Bukan kemudian pasarnya yang dimiliki oleh masyarakat.

Salah satu atau mungkin banyak properti besar, dikucurkan dana hingga ratusan milyar, dari sebuah bank. Itu juga pemanfaatan yang boleh jadi positif, boleh jadi tetap negatif, untuk ekonomi jangka pendek dan panjang.
Ulasannya bukan di sini tentunya. Seperti satu berita bahwa satu bank memberi Rp 600 milyar untuk satu kelompok properti besar. Apa yang saya baca?

Jutaan ummat berkumpul, menabung. Lalu tabungan mereka digunakan untuk membiayai properti tersebut, yang kelak properti ini justru menggusur masyarakat penabung yang notabene rakyat kecil, yang justru tidak akan mampu membeli properti mereka. Duit mereka membunuh mereka sendiri.

Tapi saya gak mau jadi the loser. Sisi positifnya jelas banyak. Pasti ada keuntungannya. Jangka pendeknya, bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak.
Kemudian bila pajaknya cakep pengelolaannya, bisa dipakai untuk ummat yang lebih banyak. Tappiii... Entahlah.

Berjamaah, sungguh Allah dan Rasul-Nya menyeru, bukan hanya di urusan shalat. Ayo dong, di semua urusan. Bahkan di dalam urusan politik. Ummat bercerai berai gak keruan.

Visi misi yang udah gak sama lagi, hingga kemudian noda perilaku dan karakter, menyempurnakan ketidaksolidan suara. Akhirnya suara banyak dipegang sama yang tidak lagi membela Allah dan Rasul-Nya, agama-Nya, dan ummat Islam.

Di urusan ekonomi, saya mengingatkan diri saya, dan sebanyak-banyaknya orang, sesungguhnya kita masih teramat kuat.
Sebab kita ini banyak. Sungguh, kita ini banyak. Banyak banget. Bener-bener banyak. Mudah-mudahan kita ini sadar.

Saya mencoba mengumpulkan baru 15 ribu orang saja, dan itupun baru tiga ribu orang kurang lebihnya, tapi sudah bisa mentake-over hotel Siti, yang didedikasikan buat hotel haji dan umrah sebagai pasar utamanya.

Dua tower, masing-masing 12 lantai, 300 kamar. Baru 15 ribu orang, dan sekali lagi, itu pun baru tiga ribu orang. Gimana jutaan ummat? Perusahaan apa yang tidak bisa dibeli ulang?

Bahkan perusahaan asing sekalipun, di negara mereka langsung, bisa dibeli oleh kita. Semoga kita semua diizinkan Allah bersatu, berjamaah. Diberi-Nya ilmu, kesempatan, kekuatan, termasuk juga ridha-Nya. Salam.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/16/mohi9f-berjamaah

Wednesday, June 12, 2013

Cahaya 2



#cahaya 1. Sering orang bilang, "Gue lagi gelap neh...". Atau: "Surem dah kayaknya masa depan saya."

#cahaya 2. Ada yg seperti di kegelapan. Ga tau musti gimana. Atau kayak jalan di tempat. Ga ada perubahan. Ga ada perbaikan&peningkatan.

#cahaya 3. Maka sedari kecil saya udah demen banget baca al Kahfi. Utamanya dari antara malam kamis maghrib, s/d jum'at maghrib.

#cahaya 4. Sbb sesiapa yg baca al Kahfi di malam Jum'at s/d Jum'at maghrib, wktnya, maka dia dikasih Cahaya. Dapet Nur.

#cahaya 7. Ini cerita ttg buah dari amal. Walo jangan juga terus2an kepengen buah di dunia. Walopun jg ga akan ngurangin buah di akhirat.

#cahaya 8. Tp biar pegimana, buah di akhirat, ttp lbh keren u/ diarepin. Cuma, buah di dunia jg, mrpkn slh 1 tanda amal diterima.

#cahaya 9. Jika dia pebisnis, bisnisnya moncer. Sbb bercahaya. Punya NUR. Kan ada orang yg bisnisnya serba mentok.

#cahaya 10. Itu brngkali sbb dia brada di kegelapan. Ibarat di kamar, lampu mati. Jalannya kan ngeraba2. Kepentok pentok.

#cahaya 11. Di dunia ini, jika berjalan tanpa cahaya-Nya, repot pot pot pot.

#cahaya 12. Seseorang yg blm brjodoh, bs jd dia ga ada NUR-Nya. Ga ada cahaya-Nya. Bs jadi loh ya. Artinya, ya ga mesti. Siapa tau, ujian.

#cahaya 5. Secara saya wkt itu pelajar, terang banget saya. Perasaaan, he he he. Bersinar. Ga demek, ga lecek, ga suram.

#cahaya 13. Tp blh jg mikir gitu. Ibarat kamar jg yg gelap. Mana keliatan barang2 di kamar tsb. Tp dikasih cahaya sdikit sj, kliatan smua2.

#cahaya 6. Bila pekerja baca ini, maka karirnya terang, kira2 begitu. Dan ini bukan perkara merupiahkan amal, atau menduniakan amal.

#cahaya 14. Di antara jutaan orang yg bth jodoh, dia ga keliatan sama pencari jodoh yg lain. Atau sama2 "dibutakan" 2-2nya.

#cahaya 15. Saling ga nemu. Yg butuh jodoh, yg nyari jodoh, sama2 ga nemu. Kudu bawa penerang. Kudu bercahaya. Kudu ber-Nur. Spy keliatan.

#cahaya 16. Atau spy bs melihat yang lain. Secara banyak yg blm berjodoh, koq ya blm/tdk keliatan yg lain yg sama2 blm brjodoh.

#cahaya 17. Segala ikhtiar udah dilakukan spy brjodoh. Tp ga ada yg liat, sbb ikhtiarnya kyk dilakukan di tempat yg gelap. Ga ada yg liat.

#cahaya 18. Dari mulai nyebrang bulak balik lampu merah, sambil dadah2 ke pengendara mbl, he he, &berkaoskan: De Jomblo, ha ha.

#cahaya 19. Atau udah ngiklanin di 19 koran lokal dan nasional. "Heiii... I'm Jomblo... If you are the same jomblo, please call me..."

#cahaya 20. Ttp aja ga ada yg liat, ga ada yg baca. Sbb itu tadi, kyk dilakukan di tempat yg gelap, yg liat jg gelap lagi, sama2 dah.

#cahaya 22. Tar, dia diem aja di rumah, sinarnya terang banget sampe ke langit. Orang bkl dtg ngelamar dia.

#cahaya 23. Begitu jg pengusaha, pebisnis. Usahanya udah diapain aja, ttp aja buntu, mentok, ga bekembang. Pake logika itu aja.

#cahaya 24. Krn itu, penting banget baca al Kahfi. Baca juga artinya. Pelan2. Atu2. Sampe meresap. Dan berulang, berulang, trs brulang.

#cahaya 25. Secr di al kahfi ada kisah pemuda2 yg ga bs ngapa2in sbb ada di gua yang gelap. Toh Allah ksh cahaya kemudiannya.

#cahaya 26. Di ayat ke-10 nya, ada doa tuh. Untuk semuanya, agar dpt jalan keluar, dpt hidayah, dpt bimbingan, dpt bimbingan. Dari Allah.

#cahaya 27. Di program seminar/pencerahan "7 Steps to Wedding", soal cahaya ini juga dikupas menjadi step yg ketiga.

#cahaya 29. Cahaya-Nya, Nur-Nya, "ditelen" lsg. Ya, dg ngafal, kayak nelen tuh cahaya. Lsg ke dalem tubuhnya, pikirannya, hatinya.

#cahaya 30. Buat yg dah biasa Yasinan (baca Yaasiin), ttp aja baca. Jgn ditinggal kebiasaan baik sejak kecil. Ga masalah dg bid'ah.

#cahaya 31. Keren dah, bisa al Kahfian, juga bisa Yasinan. Lagian, jgn serahkan hidup sama kesibukan melulu. Makin geer tuh kesibukan.

#cahaya 32. PR nih. Coba search. Cari, kata2 Nur, Cahaya, di al Qur'an. Buat catatan2. Nih PR sungguhan. Bukan hanya bacaan loh.

#cahaya 28. Al Kahfi itu 110 ayat. Kalo 1hr 1ayat, itu 110hr ngafal al Kahfi, +artinya. Tar hbs ngafal surah Qoof, al Kahfi dah.

#cahaya 33. Di al Qur'an, kata2 Nuur, atau Nur, atau pake keyword cahaya, cukup banyak. Cari, &amati (tadabburi) ayat2 tsb.

#cahaya 34. Ksh catetan, dan perhatikan ayat2nya, jg ayat2 sblm&ssdhnya, yg mengandung kata2 itu: kata2 Nur, Nuur, atau cahaya.

#cahaya 35. Yg blm hamil jg, barangkali berjalan kegelapan. Sperma ga bs menuju ovum. Sbb nyasar mulu, he he. Ga ada petunjuk masuk.

#cahaya 36. Dg rajin2 suami istri ngumpulin cahaya, trmasuk dari al Kahfi, ni sperma kayak dituntun nanti masuk ovum. Keren.

#cahaya 37. Ada malaikat nanti yg membuka jalannya, &menuntunya masuk, hingga kemudian terbuahi dg Nur-Nya. Keren banget dah.

#cahaya 39. Ok, saya dah sampe bandara Soetta. Malang, Bangil, surabaya, I'm coming. Jgn lupa loh. Jgn hanya dibaca nih twit2.

#cahaya 40. Jg jgn lupa doain saya, doain saya, doain saya. Saban hbs shalat yak. Yg haidh jg doain lah saya. Doa kan ga ada batasan.

 Sumber: @Yusuf_Mansur